Oleh: sutrisno | 7 Desember , 2006

Thoharoh

Pengertian Thoharoh

Secara bahasa, Ath Thaharah maknanya ialah kesucian dan kebersihan dari segala yang tercela, baik dhahir maupun batin. Sedangkan makna Ath Thaharah dalam istilah fiqh ialah hilangnya perkara yang menghalangi sahnya shalat. Dan perkara yang menghalangi sahnya shalat itu ialah hadats atau najis. Sedangkan menghilangkan hadats atau najis itu dengan air atau debu.

Hadats itu ialah kondisi seorang Muslim yang sedang batal wudlunya karena keluarnya sesuatu dari dua jalan (yaitu jalan kemaluan depan yang diistilahkan dengan qubul dan jalan kemaluan belakang yang diistilahkan dengan dubur), atau batalnya wudlu karena berhubungan badan antara suami dengan istri, yaitu ketika kemaluan pria telah masuk ke kemaluan wanita walaupun tidak keluar mani, maka batal pula wudlunya. Sehingga bila seseorang itu dikatakan berhadats, maknanya ialah bila dia telah batal wudlunya karena sebab-sebab tersebut. (http://ilmiah.blogdrive.com)  

Kedudukan Thoharoh 

Di dalam Al Qur’an Alloh Azza wa Jalla telah berfirman :

asysyuara88-89 

“Pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih” (Asy Syu’ara ; 88 – 89) 

Dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidak diterima shalatnya orang yang berhadats sehingga dia berwudlu.” Berkata seseorang dari Hadramaut : “Apakah yang dimaksud hadats itu wahai Abu Hurairah ?” Beliau menjawab: “Ialah keluar angin atau kentut.” (HR. Bukhari dalam Kitab Shahihnya, Kitabul Wudlu’ bab La Tuqbalus Shalatu bi Ghairi Thahur hadits ke 135 ; http://ilmiah.blogdrive.com) 

Dari Abu Malik Al – Asy’ari, ia berkata ; bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Kesucian itu sebagian dari Iman. Bacaan Alhamdulillah memenuhi timbangan. Subhanallah wa Alhamdulillah memenuhi apa yang berada diantara langit dan bumi. Sedangkan shalat adalah pelita, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah cahaya dan Al Qur’an adalah hujjah yang membenarkan atau menyalahkanmu. Setiap orang yang pergi pagi hari dan menjajakan diri  ( berkorban di jalan Alloh ), maka ia telah memerdekakan atau justru akan membinasakannya” ( HR. Muslim ; Fiqih Wanita hal. 2) 

Dan beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Kuncinya shalat itu ialah berthaharah, dan pengharamannya (yakni mulai diharamkan berbicara dalam shalat) ialah takbir (yaitu takbir permulaan shalat atau dinamakan takbiratul ihram), dan penghalalannya ialah salam (yakni halal kembali berbicara setelah berakhirnya shalat dengan mengucapkan salam)”. (HR. Tirmidzi dalam Sunannya dari Ali. Abu Isa (yakni At-Tirmidzi) berkata: “Hadits ini paling shahih dan paling baik dalam bab ini. ; http://ilmiah.blogdrive.com).  

Tingkat (Martabat) Thoharoh 

Menurut Imam Al Ghazali, dalam Ihya ‘Ulumuddin ada empat tingkat thoharoh :

Tingkat pertama, Mensucikan anggota-anggota lahir dari hadas-hadas (najis-najis), anasir-anasir kotor dan yang tidak perlu.  Tingkat kedua, Mensucikan anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan salah dan dosa. Tingkat ketiga, Mensucikan hati dari akhlak yang terkeji dan kelakuan-kelakuan yang dibenci dan terkutuk. Tingkat keempat, Mensucikan kebatinan dari tertumpu kepada semua perkara selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah cara bersucinya para Nabi Salawatullahi-alaihim dan juga para Siddiqin (Intisari Kitab Ihya ‘Ulumuddin)

Pengertian thaharah pada tiap-tiap tingkatan (martabat) itu “takhliah” (meninggalkan) dampak kesucian dan keistimewaan pada masing-masing martabat, yang kesemuanya tidak bertentangan dengan syari’at (Qur’an dan Hadis), oleh karena setiap tingkatan tersebut mensucikan pada yang terkait.

Tingkat pertama membersihkan anggota yang lahir dari segala hadas dan najis agar mencapai kesempurnaan ibadah yang lahir dengan ketentuan “sah ibadahnya”.  Tingkat kedua “membersihkan tujuh anggota sujud” seperti mata, telinga, lidah, perut, farji (kelamin), tangan dan kaki dari segala maksiat yang lahiriah dan berbagai corak dosa dan kesalahan yang akan memproduksi sifat-sifat kefasikan serta kemunafikan. Keistimewaan pembersihan pada tingkat ini  adalah membentuk sikap kepribadian yang adil. Tingkat ketiga tentang “mensucikan hati dari perangai tercela” seperti sifat ‘ujub, riya’, hasud, ghadhab, takabur, khianat dan lain sebagainya. Keistimewaan pensucian pada tingkat ini adalah menumbuhkan perangai dengan segala sifat yang terpuji (mahmudah) seperti ikhlas, zuhud, wara’, tawadhu’ hingga berbusana takwa dan bermahkota shalih. Tingkat keempat  “mensucikan rahasia bathiniah” ialah mensucikan roh, yaitu rahasia yang ada di dalam hati semacam lintasan dan angan-angan yang menimbulkan kegundah-gulanaan.

Karena yang demikian itu membawa bimbang kepada sesuatu selain dari Allah alias masygul dengan yang selain Allah swt. Keistimewaan pensucian pada tingkat ini adalah terlepas dari  sifat ghaflah (baca: ghoflah artinya lalai) dan hubud dunya (cinta dunia) dengan diganti memakai perhiasan “dzikrullah” tanpa berpaling kepada yang lain. Maksudnya, hatinya selalu ingat kepada Allah swt dengan “Syuhud” (memusatkan pandangan) kepadaNya. Itulah akhlak dan perangai pada Nabi dan Aulia yang shidiqin juga orang-orang yang muqarrabin.”  (www.akmaliah.com)

 


Responses

  1. thx yah dan mohon maaf aku kopas isinya.
    malalui coment ini aku minta ijin ambil isinya untuk referensi tugas.

  2. so do i.jazakumullah

  3. makasih berguna buat uas nih….

  4. mksi ni plajarn bs ngebantu aq,

  5. is very good………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: