Oleh: sutrisno | 12 Desember , 2006

Catatan dari sentuhan seorang pengemis

Tepat Jam 03.30 sore, saya serombongan meluncur dari bandung. Tujuan ke Purwokerto untuk keperluan mengunjungi “temen bapak” yang mau nikahkan cucunya. Perjalanan diteruskan. Kamipun berangkat dari “kampung ermawar” berbelok ke kiri menuju jalan tongkeng, kemudian belok kanan melewati jalan patra komala. Lurus hingga sampai jalan ahmad yani belok kiri.

Sebuah pemandangan yang rutin kulihat, tatkala melintas di jalan ahmad yani tepatnya di depan stadion persib bandung, menuju perempatan “bangjo”. Anak jalanan…. Itulah mereka yang setiap detiknya mengadu nasib dari sentuhan “kasih sayang”, “buang sial”, “buang recehan”,”daripada ngeganggu” dan sederet motivasi lain di belakang untaian koin-koin recehan.

“Om.. Om…..” tersentak sesaat “khayalanku” tatkala, seorang gadis kecil bermata redup, berambut panjang, mengulurkan tangan kanannya, “minta om ?”, pintanya. Refleks nalurikupun menyuruh lembaran tanganku mengambil koin-koin di saku depan bajuku. Otakkupun ga berpikir, ini baik apa ga ? kalo dikasih katanya, ikut berpartisipasi “menyengsarakan mereka”, karena dengan memberinya berarti “mendidik mereka untuk berperilaku sebagai pengemis”.

Bah, tapi gelitik itupun tak kuhiraukan, yang ada hanya praktis saja, “mereka minta, kebetulan aku ada dan aku kasih” hanya saat kasih “sentuhan dinding kalbukupun bertutur kata, “sertakan basmallah untuk untaian lembaran tanganmu, dan berdo’alah untuk kebaikan orang yang kau beri, karena kita tidak tahu, Allah akan menentukan apa terhadap anak yang saat ini, kebetulan dilihat “sebagai pengemis”.

Sebagai pengemis….. yah itulah yang terngiang-ngiang dalam alunan melodi khayalanku. Logika fikirankupun mulai bertanya-tanya, “salah siapa anak kecil jadi pengemis ?” atau “salah siapa anak kecil dijadikan pengemis ?”. Barangkali bagi orang yang demen ngritik pemerintah, berujar “ini salah satu bukti kegagalan pemerintah, ga bisa membentuk sistem pendidikan, ekonomi yang mapan, di tengah melimpah ruahnya sumber alam yang ada di bumi pertiwi.” Bagi yang suka ngritik ulama, “ini bukti para ulama tidak punya “hablum minan nass” yang baik”. Dan sederet onggokan kalimat lainnya.

Kita seringkali terbawa kepada arus “menjelekkan perilaku pengemis d jalanan” namun coba sedikit tengok ke dalam diri kita…. benarkah kita lebih baik dari perilaku pengemis itu ???

Seorang pengusaha nampak berdandan rapi memakai jas hitam, berdasi perlente, sementara melihat pakaiannya tergolong bermerk, terlihat di pergelangan tangan kirinya teronggok sebuah jam tangan “rolex”. Di sisi lain terlihat tangan kanannya menjinjing “laptop”. Dari postur tubuhnya pun tegap, gagah, dan kelihatan berwibawa. Sorot matanyapun nampak “berbinar” penuh percaya diri. Sebuah sosok yang mengagumkan.

Terlihat ia masuk ke sebuah “room” di sebuah instansi pemerintah. Iapun masuk dengan langkah mantap. Sementara di dalam “room” terlihat seorang bapak yang tidak kalah wibawanya. Kelihatan bahwa orang ini “orang yang berpengaruh” di instansi tersebut. Terlihat mereka mulai berbicara dengan sentuhan “basa-basi”, hingga pada sebuah detik yang dinanti-nanti,”berapa bagian buat saya, bila proyek ini goal?” ungkap bapak itu. Sang pengusahapun berkata, “sebuah mobil BMW seri 7, sudah siap di-deliver, besok ke rumah bapak.”jawab sang pengusaha dengan mantap.

Itulah sekelumit “cerita” yang berlalu lalang di sekeliling kita.  Yang membedakan dari cerita-cerita itu “hanya besar dan kecil” namun persamaannya adalah tidak ubahnya “transaksi-transaksi pengemis dunia”, kembali lagi yang membedakan besar kecilnya.

Namun yang lebih esensi diantara perbedaan itu adalah seandainya benar, pengemis jalanan “mengemis untuk makan”, namun mereka “mengemis untuk menumpuk keangkaramurkaan”.

Barangkali terlalu simple memang, namun itulah realita yang di depan kita, atau mungkin di dalam diri kita. Kita tak sadar telah menghempaskan moral ini, di jalan – jalan kemunafikan, di dinding-dinding keangkaramurkaan, di selokan-selokan keangkuhan.

Sebuah pertanyaan, “lebih baikkah kita dibanding pengemis jalanan di mata Tuhan ?” Barangkali, kita memang memberi sedikit koin untuk mereka, barangkali kitapun mempunyai rasa kasih saya kepada mereka…. barangkali kita memang berpikir bagaimana mengentaskan penderitaan mereka…. barangkali kita memang ….. dan barangkali memang…….?????????

Namun, yang lebih dari semua itu, “untuk apa kita memberi…. dari mana kita memberi….????” itu nurani yang berbicara…. disitulah letak “nilai dari pemberian kita”

Bandung, Senin 12 Desember 2006


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: