Oleh: sutrisno | 30 Januari , 2007

Urgensi “Niat”

Dari saat kita bangun dari tidur, sering kita terlena dalam sebuah kungkungan “rutinitas” bangun, mandi, shalat, makan pagi, antar anak ke sekolah dan berangkat kerja. Begitulah rata-rata keseharian kita di pagi hari. Karena sudah menjadi kebiasaan kadang terlupakan oleh kita sisi-sisi lain dari aktivitas yang kita kerjakan. Aktivitas tersebut terus berjalan dan berjalan tanpa kita sadari dan kita pahami, ternyata sudah sekian tahun …..

Itulah rutinitas, dan terkadang tanpa termanage dengan baik kita lambat laun akan terseret dalam sebuah aliran sungai yang tak berkesudahan apalagi kalau tidak bermuara pada sebuah danau “kebosanan”. Segalannya terasa biasa, segalanya terasa tak istimewa, segalanya terasa hambar… hingga diri kita pun tak sadari, laksana sesosok “robot” yang tiap hari hanya melakoni drama kehidupan dalam alur “mekanik kehidupan”.

Kita tentu ingat, sebuah sabda Rasul yang artinya kurang lebih begini, “berfikir sesaat itu lebih baik daripada beribadah seribu tahun”, artinya apa ? aktivitas keseharian kita jangan sampai melepaskan diri dari esensi, tujuan, dari aktivitas itu sendiri. Sebuah kegiatan akan mempunyai “nilai” manakala tindakan tersebut mempunyai tujuan yang benar, cara yang benar serta semakin mendekatkan diri kita kepada sang pencipta. Manakala kriteria tersebut tak terpenuhi, berarti ada yang salah dalam aktivitas kita.

Kembali kepada arti “sebuah nilai” aktivitas kita, akan sangat tergantung dengan “nawaitu” kita mengerjakan sebuah tindakan. Sebuah ritual “ibadah”pun tidak dipandang mempunyai nilai tanpa adanya “niat”. Secara fiqihpun disebutkan sebuah shalat tanpa niat, tidak akan diterima shalatnya. Ini shalat ?????? yang notabene aktivitas ibadah, apalagi yang lain ?

So, jadikan segala aktivitas kita adalah sarana “perwujudan syukur” kita terhadap Allah, hanya karena limpahan rakhmatNya, kita bisa beraktivitas. Tatkala landasan aktivitas kita, didasari “perwujudan rasa syukur” maka tidak ada kata, tindakan, yang terasa berat. Karena apa ? Kita terlahir karena diundang “Tuhan” untuk melaksanakan perintahnya. Kita sebagai hamba… tidak lebih. Tugas seorang hamba adalah bekerja melaksanakan tugas yang diserahkan oleh sang Pemberi Tugas. Dialah Allah Azza wa Jalla.

Kembali ke permasalahan “niat”, begitu mendasarnya arti sebuah “niat” sampai-sampai dalam sebuah riwayat menyebutkan, “Akan dihadapkan pada hari kiamat seorang hamba, lalu ia melihat dalam suratan amalnya ada haji, umrah, jihad, zakat dan sedekah, maka ia berkata dalam hatinya ; dari mana semua itu padahal aku tidak berbuat semua itu, mungkin ini bukan suratan amalku. Maka Allah berfirman; Bacalah itu suratan mu, semasa hidupmu dulu sering berkata, andainya aku mempunya harta niscaya aku jihad. Aku mengetahui akan niatmu itu, maka Aku beri pada mu pahala semua itu.

Dari riwayat tersebut dapat diambil sebuah makna bahwa, “niat” itu mendahului tindakan yang akan diniati. Kedudukan niat jauh-jauh diatas tindakannya sendiri. Sebuah tindakan yang memerlukan daya fikir yang tinggi, analisa yang tinggi, strategi yang jitu, akan menjadi amblas… tanpa “adanya niat yang benar”.

Tatkala,kita berangkat kerja, mengantar anak ke sekolah, dan lain-lain, sebuah pertanyaan yang mendasar yang harus terus dan terus kita lakukan adalah, “sudahkah kita berniat dengan benar ?”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: