Oleh: sutrisno | 25 Februari , 2007

neGeri akhirat yg aGunG

“Negeri akhirat dijadikan sebagai tempat pembalasan amaliah hamba-hambaNya yang beriman. Karena negeri dunia ini tidak akan mampu menampung balasan pahala apa yang dikehendakiNya bagi mereka. Betapa Maha Besar nun jauh bahwa Allah membalas pahala mereka di negeri yang tak pernah abadi.”

Banyak para hamba yang menginginkan balasan Allah maujud di dunia ini. Padahal dunia yang fana ini tidak akan mampu memuat balasan Allah. Hanya akhiratlah yang mampu menerima pahala orang-orang beriman sebagai tempat balasan.

Dalam hadits Qudsi dijelaskan, Allah Ta’ala berfirman, “Aku sediakan hamba-hambaKu yang saleh, sesuatu yang tidak bisa terbayang mata, tak pernah terdengar telinga, dan tak pernah terlintas di hati manusia.”

Kemudian Rasulullah saw, membacakan ayat: “Tak seorang pun tahu apa yang tersembunyi bagi mereka berupa (pahala) yang menyejukkan mata hati, sebagai balasan apa yang telah mereka lakukan.” (As-Sajdah : 17)

Maknanya, setiap arah dan makna, ragam dan macam apa pun, maka akhirat senantiasa sempurna dengan keabadiannya tidak berubah dan bergerak. Sebab yang akan datang seperti saat ini (waktu kini) dan sesuatu yang berlalu seakan tak ada.

Dalam hadits disebutkan, “Jika dunia itu dari emas tetapi akan fana. Dan akhirat itu dari tembikar rusak tetapi abadi, pasti orang yang berakal memilih yang abadi dibanding yang rusak.”

Balasan Allah itu dihantar oleh buah dari amal. Dan buah amal itu menunjukkan bahwa amal ibadah kita diterima. Balasan ditimbang dengan kadar diterimanya amal ibadah itu. Karenanya sang pengarang Al-Hikam mengingatkan:

“Siapa yang menemukan buah amalnya seketika, menunjukkan bahwa amal ibadahnya diterima”

Buah amal ibadah adalah sesuatu yang muncul dari balik ibadah itu sendiri, berupa makna faedah keagamaan dan keduniaan, hal demikian berkisar pada tiga hal:

Pertama, Diraihnya suatu kesenangan dan hilangnya ketakutan serta kegelisahan. Karena firmanNya : “Ingatlah bahwa kekasih-kekasih Allah itu tidak pernah takut dan mereka tidak gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa, mereka mendapatkan kegembiraan di dunia dan di akhirat.” (Yunus 62).

Kedua, Kehidupan yang menyenangkan dan baik adalah kehidupan yang dilimpahi rasa rela dan qona’ah atas pemberianNya. “Siapa yang beramal saleh, baik dari laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka hendaknya ia dapatkan kehidupan yang baik.” (An Nuur 55), disamping munculnya rahasia khilafah dengan tunduknya alam semesta lahir maupun batin kepadanya. “Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal ibadah yang saleh, maka Allah akan memberikan wewenang khilafah mereka di muka bumi sebagaimana Allah mengangkat orang-orang sebelum mereka, dan niscaya mereka berteguh hati memelihara agama mereka yang Allah meridloi bagi mereka. Dan Allah akan merubah mereka dari rasa takut menjadi rasa aman.”

Ketiga, Diantara kehidupan yang baik seseorang merasakan manisnya taat, dan rasa manis itu indikasi sebagai buah, bukan substansi dari taat itu sendiri.

Buah-buah amaliah antara lain juga anda merasakan kebajikan luar biasa, peningkatan kualitas jiwa anda setelah anda menjalaninya. Semua itu menunjukkan bahwa amal ibadah anda diterima.
________________________________________
SufiNews.Com – http://www.sufinews.com [ Artikel Tangal : 26 February 2006 ]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: