Oleh: sutrisno | 13 November , 2007

Dzikir – Al Ghazali

Al Ghazali berkata :

“Ketahuilah bahwa orang – orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah ta’ala, dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah keduali dengan kematian hamba dalam keadaan mencintai Allah dan mengenal Allah. Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai. Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa berfikir tentang berbagai penciptaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Di alam wujud ini yang ada hanyalah Allah dan perbuatan-perbuatanNya.

Sementara itu, tidak akan bisa senantiasa dzikir dan fikir kecuali dengan berpisah dari dunia berikut syahwat-syahwatnya dan mencukupkan diri dengannya sesuai keperluan. Tetapi itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang dalam tugas-tugas dzikir dan fikir.

Karena tabiat nafsu mudah jemu dan pesimis maka ia tidak bisa bertahan lama dalam satu “seni” aktivitas yang dapat membantu melakukan dzikir dan fikir, sehingga manusia dituntut agar memberikan “kesegaran” dengan berganti-ganti dari satu “seni” ke “seni” yang lain, dari satu bentuk ke bentuk yang lain, sesuai dengan setiap waktu agar dengan pergantian tersebut dapat merasakan kelezatannya dan dengan kelazatan itu bisa mempertahankan semangat dan kelangsungannya. Oleh sebab itu, wirid-wirid dibagi kepada beberapa bagian yang beraneka ragam. Jadi, fikir dan dzikir harus meliputi semua waktu atau sebagian besarnya, karena tabiat jiwa cenderung kepada kesenangan dunia.

Jika seorang hamba mengalokasikan separuh waktunya untuk mengatur urusan dunia dan syahwatnya yang dibolehkan misalnya sedangkan separuh lainnya untuk berbagai ibadah, niscaya kecenderungan kepada dunia akan lebih berat karena hal ini sesuai dengan tabiatnya.

Dalam pertarungan antar kedua kecenderungan itu, tabiat berpihak kepada kecenderungan dunia, karena zhair dan batin manusia saling membantu pada perkara-perkara dunia sehingga hati menjadi terarahkan untuk mencarinya. Sedangkan kembali kepada ibadah merupakan hal yang berat dan hati tidak dapat berkonsentrasi penuh kepadanya kecuali pada waktu-waktu tertentu. Karena itu, barangsiapa yang ingin masuk sorga tanpa hisab maka hendaklah ia mengoptimalkan waktunya untuk keta’atan. Dan barangsiapa ingin daun timbangan kebaikan dan kebajikannya lebih berat maka hendaklah ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk keta’atan.

Jika ia mencampuraduk amal shalih dengan amal keburukan maka ia berada dalam bahaya, tetapi harapan tak pernah terputus dan ampunan dari kedermawanan Allah senantiasa dinantikan ; semoga Allah berkenan mengampuninya dengan kedermawanan-Nya. Itulah yang dapat terungkap oleh orang-orang yang memandang ( kehidupan dan permasalahan ) dengan cahaya bashirah. Jika Anda tidak termasuk diantara mereka maka perhatikanlah khithab Allah kepada Rasul-Nya dan seraplah dengan cahaya iman. Allah berfirman kepada hamba-hambaNya yang paling dekat dan paling tinggi derajatnya di sisi-Nya :

”Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” ( Al Muzzammil : 7-8)

”Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” ( Al Insan : 25 – 26)

”Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan Setiap selesai sembahyang.” (Qaaf : 39-40)

”Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)”. ( At thur : 48-49)

”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al Muzzammil : 6)

”Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” ( Thaha : 130 )

”Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud : 114)

Kemudian perhatikanlah bagaimana dan dengan apa Allah menyebutkan sifat-sifat para hamba-Nya yang sukses :

“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar :9)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[1193] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (As Sajadah : 16)

”Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (Al Furqan : 64)

”Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (Adz Dzariyat : 17-18)

”Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. (Ar Rum : 17)

”Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya.” (Al An’am : 52)

Itu semua menjelaskan kepada Anda bahwa jalan kepada Allah ialah dengan mengatur waktu dan menyermarakkanya dengan wirid-wirid secara ajeg. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda : ”Hamba yang paling dicintai Allah ialah orang-orang menjaga matahari, bulan dan bayang-bayang untuk mengingat Allah” (Diriwayatkan oleh Thabrani dan al Hakim, ia brkata : shahih sanadnya).

Allah berfirman :

”Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Ar Rahman : 5)

”Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (Al Furqan : 45-46)

”Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua” (Yasin : 39)

”Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al An’am : 97)

Janganlah anda mengira bahwa tujuan dari peredaran matahari dan bulan dengan perhitungan yang cermat dan teratur, serta penciptaan bayang-bayang, cahaya dan bintang-bintang itu, hanya untuk membantu urusan dunia saja, tetapi juga untuk mengetahui ukuran-ukuran waktu penunaian berbagai ketaatan dan perniagaan akhirat, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah :

”Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al Furqan : 62)

Yakni keduanya saling silih berganti untuk menyusuli ketinggalan yang ada pada yang lain, dan dijelaskan bahwa hal ini adalah dzikir dan syukur. Allah berfirman :

”Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Al Isra’ : 12)

Karunia yang diharapkan itu adalah pahala dan ampunan. Semoga Allah memberikan taufiq kepada apa yang diridhai-Nya.

Sa’id Hawwa berkata : orang yang menhendaki akhirat harus membuat program rutin untuk dirinya berupa bacaan istighfar, tahlil, shalawat atas Rasulullah saw dan dzikir-dzikir ma’tsur lainnya, sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk dzikir terus menerus seperti tasbih,istighfar, tahlil, takbir, atau hauqalah (laa haula walaa quwwata illaa billah), untuk menambah program rutin tersebut dengan berbagai shalat, ibadah dan amalan-amalan yang telah kami paparkan. Kesucian dan ketinggian jiwanya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia telah melaksanakan sarana-sarana tazkiyah, baik ia merasakannya ataupun tidak.

Dikutip dari : Buku ”Mensucikan Jiwa Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali” oleh Said Hawwa


Responses

  1. Terima kasih kerana anda menitipkan ilmu kepada saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: